First daughter
Aku adalah anak perempuan pertama di keluargaku.
Kurasa seperti orang tua pada umumnya, kedua orang tuaku pasti berharap banyak kepada anak pertama.
Berharap bisa melanjutkan mimpi mereka yang dahulu tak bisa mereka raih,
Berharap bisa menjadi contoh yang baik untuk adiknya,
Berharap bisa memberi yang terbaik, karena dia tumbuh pertama.
Tapi,
Kadang, sebagai anak pertama, aku berharap lahir menjadi anak kedua.
Ever since i grew up, they put too much burden on my shoulder.
Mungkin sebagian orang tahu aku adalah anak yang ceria, namun yang mereka tidak tahu, dahulu kala, aku adalah anak yang pendiam dan tak banyak bicara. Aku lebih suka membaca buku di kamar, menulis di blog, mempelajari semuanya dalam rumah, tanpa harus keluar.
Sewaktu TK, aku selalu menangis ketika akan berangkat sekolah. Karena ayahku dulu adalah seorang tentara, aku menghabiskan waktuku lebih banyak dengan ibuk. Sejujurnya nggak banyak juga sih, karena ibuku juga bekerja sebagai guru. Waktu itu, (mungkin) aku merasa kurang diperhatikan, sehingga ketika ibuku mengantarku ke TK, aku selalu menangis tidak mau ditinggal. Nggak tau juga kenapa, mungkin karena memang kebanyakan melakukan hal di dalam rumah membuatku lebih tenang. Mungkin juga karena aku juga tidak suka ditinggal. Tangisan itu berlanjut sampai SD.
Aku masih ingat, waktu SD, wali kelasku selalu mengajakku jalan-jalan keliling sekolah dulu sebelum aku masuk ke kelas. Bisa jadi karena aku memang tidak suka ditinggal, ya? Jadi merasa too attached kepada sesuatu.
Mungkin orang juga tidak tahu, sewaktu lahir, nenekku bilang, perutku amat tipis, seperti anak yang tidak bernutrisi dan rasa-rasanya urat nadinya kelihatan (nenekku selalu ingin menangis ketika bercerita tentang ini). Dan itu membuatku menjadi lebih rentan terkena penyakit. Waktu kecil aku langganan sakit panas, maagh, sampai thypus.
Kurasa, mungkin gara-gara itu akhirnya aku merasa orang tuaku menjadi over protective. They want the best for their daughter.
6 tahun aku SD, temanku tidak banyak. Paling banyak 3, itu pun juga sama sampai lulus. Mungkin karena orangtua over protectif, itu yang membuat aku jadi lack of confidence. Karena semua mua aku (seperti) harus meminta pendapat orang tua ku terlebih dahulu. Ketika lulus, aku masuk pondok, kemudian sakit dan harus keluar, hal itu memicu sifat overprotective lagi di orangtuaku.
Aku masih ingat, waktu itu aku tidak masuk sekolah selama 3 hari, badanku panas, dan setiap aku mau berdiri, aku limbung dan akhirnya jatuh lagi. Teman sekamarku mungkin tidak tega denganku waktu itu, dan berinisiatif untuk mengajak teman yg lainnya membopong badanku yang mengurus ke tempat berobat di dalam pondok itu. Long story short, aku cek darah, dan ternyata aku sakit tipus, kemudian di rawat di tempat pengobatannya berhari-hari. Dulu aku takut memberi tahu ayah dan ibuku, karena aku takut mereka khawatir. Tapi nggak tau kenapa dan siapa yang memberi tahu, akhirnya ayah dan ibuku tahu. Mereka langsung berangkat ke pondok itu dan menemukanku tergeletak lemas di tempat pengobatan (sudah setengah mengigau). Hal ini tentu saja aku tidak ingat, tp ibuku pernah bercerita. Ibuku langsung menangis, karena ya memang rasanya badanku waktu itu kurus sekali tinggal kulit yang nempel sama tulang (beratku sampai 35kg).
Kurasa dari situ akhirnya orangtuaku menjadi lebih protective lagi.
Mungkin, ketika akan jadi orang tua nanti, aku beharap bisa menjadi pendengar yang baik bagi anakku. Protective boleh, tapi tidak over. Tukar pendapat, menumbuhkan self confidence. Memberikan pandangan, tukar pikiran.
Mungkin, jika aku bukan anak pertama, aku bisa mendapatkan itu semua.
Comments