Hujan.

Gadis itu berlari menembus hujan yang turun di tengah bulan Juni. Tangannya penuh membawa kantung besar berisi makanan ringan dan beberapa minuman bersoda. Hari ini adalah hari ulang tahunnya dan ia merencanakan untuk membuat pesta kecil-kecilan bersama beberapa teman terdekatnya. Jarak apartemen yang tak terlalu jauh dari supermarket itu menyelamatkannya dari tetesan air hujan yang sebagian sudah membasahi sweater pinknya.

Piiiip! Bunyi kode pintu apartemennya telah terbuka. Gadis itu segera masuk, memakai sandal rumahnya dan meletakkan barang belanjaan di ruang tamu lalu beranjak menuju kamarnya untuk berganti baju.

Pesta kecil itu dimulai 3 jam lagi, namun dirinya belum mempersiapkan apapun. Dekorasi, kursi, maupun perlengkapan makan. Semuanya masih tertata rapi dan terbungkus pada kantung besar.
Gadis itu pergi ke dapur dan membuat segelas cokelat panas untuknya. Dia merasa cukup lelah berlari dari supermarket itu. Kemudian, sambil memegang segelas cokelat dalam tangannya, dia melesakkan pantatnya ke sofa dan menekan tombol on pada remote tv.

Belum 30 menit dia duduk nyaman di sofa, bel berbunyi kencang.
Ting tong!
Gadis itu menoleh, sedikit melengos dan berjalan ogah-ogahan ke arah pintu apartemennya.
Cekrek, pintu itu sedikit terbuka.
Di depannya berdiri seorang laki-laki bermantel kuning, warna kesukaannya. Laki-laki yang sudah lama sekali tak dilihatnya bahkan tahu kabarnya. Mata gadis itu sedikit terbelalak. Hatinya berdegup kencang.

'Yuna?' Sapa laki-laki itu pelan, memecah lamunannya.

'Hai Yuna, apa kabar?' Lanjutnya sambil tersenyum dan melambaikan tangannya.

Yuna terdiam. Belum ada sepatah kata yang keluar dari mulutnya.

'Hai' jawab Yuna singkat. Giginya beradu mengeluarkan suara gemertak.
'Untuk apa kau kesini? Darimana kau tahu alamat rumahku?'

Lelaki itu terdiam. Lorong apartemen itu cukup hening, bahkan mampu membuat suara Yuna sedikit menggema.

'Aku kesini cuma ingin memberikan ini' ucap lelaki itu sambil menyodorkan sekotak cake yang cukup besar. 'Selamat ulang tahun'

Yuna hanya memandang uluran tangan itu dari jauh. Aroma citrus tercium dibalik kotak besar berpita ungu itu. Hatinya bingung, kepalanya menjadi sedikit pusing. Haruskah ku terima ini? Setelah apa yang dia lakukan waktu itu? Tanyanya pada hati kecilnya. Mereka berdua masih berdiri di ambang pintu, tanpa sedikit kata. Di luar apartemen, suara gemuruh terdengar memekakkan telinga.

‘Kau masih marah ya?’ Tanya Gaffi polos tak merasa bersalah.
Yuna hanya diam tak memperhatikan omongannya. Matanya hanya focus pada lantai marmer bewarna abu, pikirannya melayang.
‘Bawa pulang aja. Aku nggak butuh’ ucap Yuna pelan hampir terasa seperti bisikan. Dia melihat Gaffi sekilas kemudian hendak menutup pintunya. ‘Aku mau ada acara. Kalau tujuanmu hanya itu saja, kututup pintunya ya. Aku capek’

Tangan Yuna hampir melepas kenop pintu itu ketika Gaffi menahannya. Yuna sudah tidak peduli lagi dengannya dan tetap mengarahkan badannya menuju dalam apartemennya. Memori-memori yang berputar dalam kepala membuatnya amat pusing, belum lagi dadanya terasa sesak, dan matanya yang berat karena menahan air mata. Baru saja dia melangkahkan kakinya, Yuna merasa ada yang mendekapnya dari belakang. Dengan cepat, Gaffi melingkarkan lengan ke lehernya dan menyandarkan kepala pada punggung Yuna.

‘Maaf ya’ ucap Gaffi pelan makin mempererat dekapannya.

 Hening –tak ada satu patah kata yang terucap dari bibir Yuna. Dia hanya menunduk, badannya sedikit bergetar. Yuna menangis tanpa suara. Air mata itu perlahan mampu membobol pertahanannya. Gaffi ikut terdiam, merasa bersalah. Seandainya waktu itu dia tahu bahwa dia melakukan kesalahan fatal dan segera meminta maaf pada Yuna, mungkin kejadiannya tak akan menjadi seperti ini.

Di luar, hujan terdengar semakin deras seakan tahu seseorang membutuhkannya. Hujan pertama yang terjadi di pertengahan bulan Juni. Hujan yang selalu hadir di saat Yuna sedang membutuhkan seseorang. Hujan yang ada disaat Yuna bahagia. Mungkin hujan juga berpikir, setiap saat dia jatuh ke bumi, selalu akan ada cerita yang berbeda yang mengiringinya. Karena, setiap hujan punya cerita.


Comments