Menunggu
Mobil dan motor masih berlalu lalang di bawah jembatan biru lusuh itu. Ya lusuh, banyak sampah, coretan dimana-mana dan banyak cat yang terkelupas. Entah sudah berapa lama aku berdiri mematung memandang lurus ke arah lampu merah, menunggu adakah kendaraan umum yang akan lewat dan berhenti tepat di bawah jembatan. Hari hampir petang, langit sudah mulai gelap. Untung saja hari ini tidak hujan, pikirku.
Sambil membawa tas belanja, akhirnya aku memutuskan untuk menuruni tangga jembatan itu. Remang sekali di bawah jembatan, hanya ada satu bajaj yang parkir untuk menunggu penumpang.
Sepuluh menit... Dua puluh menit.. Kendaraan umum itu juga tak kunjung muncul. Ingin menyerah dan memesan ojek online, namun ketika mengambil handphone dari saku, tiba-tiba elektronik itu meluncur bebas ke tepi jalan. Tepat sekali ada sebuah motor yang berhenti di depanku.
'Mba Ina ya?' Tanyanya
Aku hanya terdiam, mematung.
'Mba Ina bukan?' Tanyanya lagi
'Bukan' jawabku ketus, malas sekali berbasa basi.
'Yakin bukan Mba Ina?' Tanyanya sekali lagi, mengulang pertanyaan yang sama
Mataku menyipit dan hampir mengamuk, namun tiba-tiba dia mengulurkan tangan memberikan hpku yang terjatuh mengenai ban depannya.
'Ini hpnya jatuh, itu di layarnya ada tulisan Ina, aku pikir nama kamu Ina' ujarnya. Sejujurnya aku hampir tertawa dalam hati , karena ternyata layar hp ku retak , dan hanya setengah layarnya yang menyala pada bagian 'Ina'. Padahal pada layar itu harusnya terlihat foto bersama taman-teman kantor dan di latar belakang ada tulisan Malam Inagurasi -yang tentu saja tidak kelihatan-.
'Namaku Supria , tapi orang orang biasa panggil aku Pri . Menurutmu lebih enak mi ayam atau bakso?'
Comments