Melanjutkan Hidup

 Semenjak menikah, emosi jadi sering naik turun ya? Hahaha. Tapi aku merasa hal itu adalah salah satu nikmat menikah. Dimana jauh sebelum itu, aku susah sekali mencari orang yang bisa diusilin tiap saat tiap waktu, diajak kemana-mana yang jawabannya 'hayuk', coba makanan baru, beli baju kembaran, atau sekedar menikmati sepoi angin di pinggir danau sambil makan eskrim. 

Aku masih ingat sekali, di tahun 2013 saat aku melaksanakan umroh ke Tanah Suci, aku berdoa supaya bisa mendapat jodoh yang merupakan 'orang biasa'. Begitu hebat Allah jawab doaku di waktu yang tepat, dipertemukan di tempat yang tidak terduga, sesuai waktunya. 

Kadang Allah membiarkan kita belajar dulu memahami makna 'sesuai waktunya' ataupun 'sesuai porsinya'. Karena nggak semua yang kita inginkan bisa menjadi milik kita seutuhnya selama semesta juga belum merestui :D

Seiring berjalannya waktu, aku juga belajar mengenai rasa ikhlas yang sesungguhnya. Tidak memaksakan kehendak, benar-benar rela dan pasrah jika memang ada banyak hal yang harus kita tunggu sesuai dengan waktunya. Aku dulu selalu merasa bisa melakukanya dengan mudah , namun pada kenyataannya ternyata bukan itu yang dimaksud dengan kata 'mengikhlaskan'. 

Ternyata melanjutkan hidup itu menyenangkan , ya?

Comments