Temanku, bukan temanku
Beranjak dari muda hingga umur 27 ini, aku menyadari bahwa banyak hal yang sesungguhnya kita ngga ketahui di depan mata kita. Kadang kita berasumsi semua baik-baik saja, namun ternyata sebenarnya nggak juga. Kadang kita berharap ada teman yang selalu ada, bertanya tentang hari ini, menanyakan apakah kamu baik-baik saja. Kalau sekarang, pertanyaan semacam itu kadang menimbulkan semacam pergolakan di dalam hati. Apakah dia memang benar-benar care, atau hanya sebatas kepo saja.
Seiring bertambahnya usia, karakter orang mungkin akan berubah juga mengikuti lingkungan tempat orang tersebut tinggal ataupun bekerja. Ada yang menyebutkan teman itu seperti pisau bermata dua, di depan mungkin terlihat baik-baik saja, namun di belakang ternyata menghina. Nggak semua orang begitu sih sebenarnya, hanya kebanyakan yang aku perhatikan seperti itu.
Kadang terasa menyakitkan, loh.
Aku, sebagai teman, biasanya akan menyempatkan waktu apabila diundang ke acara teman yang lain. Misalkan, seperti wisuda, lamaran, nikahan, apabila memang aku memiliki waktu luang dan punya kesempatan untuk berangkat kesana. Ketika aku membuka gallery foto, aku selalu melihat ada aku di setiap temanku punya acara. Namun, ketika aku ada acara, beberapa teman yang aku harapkan datang saat itu, ternyata tidak bisa datang. Ada juga yang datang dan cuma say hi, kemudian ternyata malah pergi dan berkunjung ke teman lain, yang acaranya sama denganku. Sakit sih sebenarnya, tapi mungkin mereka berteman lebih lama daripada sebelum bertemu denganku, jadi ya aku hanya bisa berpositif thinking.
Overthinking itu pasti. Kadang aku merasa apakah ada yang kurang aku lakukan sebagai teman? Apakah aku kurang care? Apakah aku kurang memberi jarak? Apakah aku tidak bisa mendengarkan mereka dengan baik? Itu yang selalu berada dalam pikiranku.
Aku tahu sebenarnya itu tidak boleh dan harusnya aku menanyakan secara langsung, namun rasanya ngga etis aja mempertanyakan hal seperti itu :')
Karena aku jarang ditanya apakah hari ini aku baik-baik saja, aku mulai berusaha menanyakan hal itu pada teman yang benar-benar care sama aku. Aku berusaha menjadi pribadi yang selalu ada, meskipun kadang ketika mereka bertanya aku ngga punya jawaban konkritnya, aku berusaha selalu ada.
Ada satu hal juga yang kadang aku pertanyakan.
Mereka sering sekali menghubungiku saat butuhnya saja. Kadang aku ngga merasa mereka bener-bener selalu ada tiap aku butuh. Atau aku yang kurang cerita saja ya?
Masalahnya aku takut, ketika aku bercerita pada mereka, mereka akan menganggapku aneh karena semua yang terjadi sama aku nggak sepenuhnya normal.
I was happy that i have so many friends.
But in fact, i am most happy when i am alone.
Comments