Dia, bukan milikku.
Angin masih berhembus pelan melewati sela rambutku. Badanku masih mematung, enggan beranjak dari rerumputan tempatku berdiri.
Aku melihatnya. Aku melihat senyumnya yang indah, matanya yang bersinar, tawa khasnya, juga gerakan tangan saat mengusap rambut cepaknya.
Untuk sejenak, aku menutup kedua mataku dan menghela nafas yang sangat panjang.
Memori memori itu seakan bergerak begitu cepat, berlari dalam pikiranku.
Kemudian, aku membuka mata. Kulihat, dia masih tersenyum,
Namun kutahu,
Senyumnya bukanlah untukku.
Comments