Rahasia


Senja masih duduk terdiam di ruang tamu rumah Lirre. mengumpulkan kata-kata yang sedari tadi dibendungnya, menanti umpatan yang akan dikeluarkan dari mulutnya.
Lirre juga hanya diam mematung, matanya terpaku pada cangkir teh apel bewarna cokelat muda yang terletak di atas meja kaca.
Asap masih mengepul dari permukaan gelas itu, ketika senja memutuskan untuk berbicara.

'Nggak ada yang mau kamu ceritain, Re?' tanya Senja serius, menahan amarahnya sambil mengambil cangkir dan menyeruput isinya perlahan.
Lirre masih terdiam seolah kepalanya penuh dengan rasa bersalah dan penyesalan.

'Kalo kamu ngga mau cerita, it's okay. Aku mau pulang ya. Tugas edit rubrik Curhatku masih ban--'

Lirre mengangkat mukanya, memandang Senja lemas.

'Maaf ya' suaranya lemah dan lirih.
'Maaf buat semuanya'

Senja menghela nafas perlahan, meletakkan cangkirnya kembali dan memperbaiki posisi duduknya. Dilihatnya Lirre pucat, tangannya gemetar ketakutan.

'Kamu harusnya cerita ke aku, Re. Kita temenan udah lama banget loh, 5 tahun. Tapi kamu selalu ngerahasiain semuanya dari aku. Aku ngerti sekarang kerjaan kita udah beda, udah jarang-- bahkan hampir nggak pernah sama-sama lagi. Tapi seenggaknya kamu...... Harusnya kamu.....' suara Senja bergetar.

'......Nggak semua cerita harus disimpen sendiri, Re. Apalagi yang kayak gini'

Comments